Jago Gambar Itu Mitos!

Hal yang paling bikin gw seneng dari mengajar adalah ketika ada satuuuu orang saja yang bisa menangkap yang gw maksud dan idealismekan di Carrot Academy.. dan gak sengaja gw nemu lagi artikel dari seorang siswa carrot yang ternyata paham dan mengerti yang gw maksud tentang arti “JAGO ITU MITOS”

baca tulisannya :

Jargon yang dilontarkan si pendiri Carrot Academy, Putra Adi Setiawan itu agak provokatif, dan multitafsir. Di satu sisi, kata-kata itu seolah-olah adalah sebuah excuse buat orang yang kurang terampil gambar. Buat orang terampil menggambar, kalimat itu seperti melecehkan keahlian sang seniman gambar, karena menurut Putra Adi, semua orang bisa terampil menggambar. Bahkan bagi orang yang tidak punya latar belakang pernah menggambar sama sekali.

Terus terang, buat saya, pertama kali mendengar kata-kata itu seperti diberi harapan tinggi, janji surga. Sekadar trik si empunya tempat kursus agar murid-murid yang belajar di situ tertarik. Sampai sekarang pun saya masih berusaha, berjuang untuk membuktikan bahwa teori itu benar–walaupun pada perjalanannya, saya mendapati banyak orang-orang sukses dunia juga berkeyakinan sama. Dan tulisan ini adalah sedikit ilustrasi dari kalimat yang saya dapat saat menimba ilmu itu…

Otak kita merekam apa yang dilihat oleh mata, informasi itu dianalisa dan diteruskan ke organ-organ tubuh lain dalam melakukan sesuatu. Kenyataannya, organ-organ tubuh kita bekerja dari hasil hafalan-hafalan (sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang). Seorang bayi akan melakukan belajar berjalan berulang-ulang sampai akhirnya dia bisa berjalan, dll.

Dalam hal ilustrasi–dan banyak hal lainnya, tidak diharuskan orang untuk melakukannya, sehingga faktor pendorong kurang kuat dan yang terjadi adalah kita tidak secara mendalam mempelajarinya sampai benar-benar “ngelotok”. Padahal kuncinya hanya melakukan berulang-ulang.

OSMOSIS DALAM PEMBELAJARAN

Hampir sama dengan menulis dan membaca. Bedanya, orang tua, guru, paman, bulik, pakde, budhe, mbah, pokoknya banyak orang akan concern dan ikut terlibat agar seorang anak bisa menulis/ membaca. Terlebih lagi, membaca/ menulis akan terus diulang/ dilakukan sepanjang manusia masih hidup.

Sebenarnya jika menggambar itu menjadi kewajiban dan harus dilakukan sebagaimana menulis/ membaca, maka niscaya semua orang akan bisa menggambar. Perbedaan perlakuan itulah yang membuat menggambar terasa susah, padahal hal yang sama kita alami dengan menulis/ membaca. Pada saat pertama kali kita belajar menulis/ membaca, itu pun terasa sangat sulit, tetapi karena dilakukan terus-menerus, saat ini kita bisa menulis bahkan sambil tidak melihat.

Kembali lagi soal menggambar. Untuk menjadi hafal dan terampil dalam ilustrasi–sebagaimana juga dalam banyak hal, ada hambatan-hambatan yang muncul. Mulai dari malas, capek, tidak ada waktu, sampai pada ketidaktersediaan alat, dan ketidakmampuan untuk menyerap pelajaran. Tinggal bagaimana menyikapinya. Melihat referensi, mempelajari karya orang, dan tetap dalam lingkaran orang-orang kreatif yang terus-menerus memacu “adrenalin” kita untuk berkarya, adalah salah satu tips yang dianjurkan Putra Adi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “jago” berarti “juara” atau “kampiun”, champion bahasa Inggrisnya. Konotasinya, jago adalah mahir melakukan suatu hal, bahkan dengan tanpa melihat. Dalam menggambar, kita akan mengartikan kalau si jago bisa menggambar apa pun dengan baik, bahkan sempurna.

Namun bagi seniman gambar, bisa dalam satu bentuk ilustrasi, belum tentu dia akan bisa melakukannya dengan baik untuk bentuk ilustrasi yang lain. Dan itulah sebabnya mengapa “jago itu mitos”. Jago atau juara adalah jika kita berhasil melampaui hambatan yang merintangi untuk bisa menggambar, dan hambatan itu bahkan lebih banyak berkaitan dengan diri kita. Mau atau tidak!

kalo mo liat blognya kang esbe silahkan liat ke SINI

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *