PARANG

Parang – Sabhaparwa I

Lakon 1 – Awal tengah
“Pada saat dimulainya satu masa, dari tahun ke tigabelas yang menurut mereka adalah awal dari akhir. Aku mendengar tentang seekor binatang yang muncul dari dalam tanah. Tak ada satupun sangkakala yang mengiringi datangnya binatang itu, bahkan bumi menolak membelah diri untuk menandai kedatangannya”

Disebuah dataran tandus tak bertuan. Sesosok lelaki dengan sebuah batu di tangan kirinnya, dan pedang di tangan kanannya. Berdiri sedikit membungkuk malas membelakangi matahari. Matanya menatap tajam namun kosong.

Didepannya terlihat 9 orang berlari menuju kearahnya, dengan pedang dan tombak terhunus. Tampak seperti sebuah gerakan lambat setiap langkah kaki mereka membawa lebih dekat menuju lelaki itu.

“aku tidak pernah ingat bagaimana semua ini dimulai” kata lelaki itu lirih

“siapa aku? darimana asalku? dan bagaimana aku bisa berada disini” dia bergumam seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Sementara itu orang orang buas itu semakin mendekat ke arah lelaki itu. Teriakan sumpah serapah keluar dari mulut mereka.

“Siapa mereka?”

Angin gurun sedikit berhembus dari arah barat, membuat mata lelaki itu sedikit menyipitkan matannya yang masih menatap tajam ke arah orang2 itu.

“mengapa mereka ingin membunuhku?”

Panasnya padang gurun membuat muka lelaki itu mengkilat dilapisi minyak dan keringat. Sebuah tetes besar keringat dengan lambat bergerak dari celah rambutnya dan terus bergerak menuju dagunya dan menetes pelan melepaskan diri menuju tanah

“mereka memanggilku PARANG” kata lelaki itu dengan suara pelan, mulutnya nyaris tak terbuka.

Tetesan keringat itu sedikit terhambat saat dalam perjalanannya menuju tanah beradu dengan sebuah besi tajam.

“dan benda di tanganku ini telah ada sejak aku mulai mengingat semuannya” Parang berucap sambil memutar pelan senjata tajam di tangan kanannya. Tanpa menggerakkan kepalanya Parang melirik ke arah tangan kanannya, menatap benda berbentuk seperti pedang dengan ujung datar yang dia pegang erat.

Salah satu dari bandit itu sudah berada tepat didepan dia, menghunuskan sebuah golok besar dan tinggal tiga *kilan lagi mengengenai kepala lelaki itu.

“Kata mereka, benda ini juga bernama parang”

Parang masih melirik senjata yang dia pegang seperti seolah tak menghiraukan golok besar yang sebentar lagi membelah kepalanya.

“dan entah mengapa aku sangat pandai menggunakannya” matanya makin menatap senjata itu dengan lekat.

Di depan dia sebuah golok besar sudah sangat dekat dan hanya berjarak beberapa jari saja dari kepalanya. Tak sadar dengan siapa yang dia hadapi, orang naas itu sangat bernafsu ingin membunuh Parang.

Seperti sebuah gerakan lambat Parang bergerak kesamping, memutar sedikit badannya hanya agar golok besar tersebut tidak mengenai kepalanya. Orang itu terjerembab terguling ketika keseimbangannya hilang saat golok besarnya bertemu udara kosong.

Parang menatap orang itu dengan tatapan seperti keheranan. Dibelakangnya beberapa orang yang berlari lebih pelan tampak menghunuskan sebuah kampak, tombak dan pedang dan targetnya cuma satu, kepala Parang.

Dengan mata masih memandang orang yang jatuh tadi dan berusaha bangkit, Parang melesakkan senjata tajamnya tepat di tenggorokan orang bersenjata kampak yang berlari terlalu kencang dan tidak mampu menahan serangan tiba tiba itu.

Dg cepat badannya berputar & seperti sdh ribuan kali bertarung dia terlihat tenang namun tetap ada kebingunan dimatanya.
Seperti dia sendiri bingung & takjub bagaimana dia bisa melakukan semua ini.

Tiba tiba batu ditangan kirinya sdh bersarang di dahi salah satu bandit itu. Bersarang sangat dalam hingga tidak mungkin ada orang yg bisa selamat dr kerusakan tengkorak separah itu.

Beberapa menit kemudian yang tersisa hanyalah kesunyian. Denting pedang beradu dengan besi, daging dan tulang sudah tergantikan dengan deru Angin muson barat yang membawa hujan. Meninggalkan sosok Parang sendiri di antara tumpukan mayat dan bau anyir darah.

*kilan : satuan ukuran kuno yang digunakan dengan cara merenggangkan telapak tangan, satu kilan berarti satu jarak antara ujung jempol dengan ujung kelingking.

Lakon 2 –
“Dan kemudian daripadanya diberikanlah sebuah tanda, tanda dari binatang ketujuh yang memakai mahkota pertama. Pada mahkota itu terdapat tiga belas batu dan dari batu tersebut munculah sebuah wajah yang tampak buram walaupun dari mulutnya terdengar lirih berbisik”

Angin muson barat bertiup dingin di antara celah pohon. Sesaat rintik hujan msh tersisa diantara hembusan angin. Sore itu disebuah jalan setapak kecil dipinggir sebuah sungai tampak Parang berjalan dg ringan. Tubuhnya terlihat kering walaupun jalan disekitarnya terlihat basah, tampaknya dia berteduh saat hujan deras menerpa daratan Sabhaparwa.

Sabhaparwa terletak di bagian timur benua kurusetra. Dibawah kekuasaan Raja Aramuda yg mempunyai latar belakang militer yg kuat Nagara Sabhaparwa yg luas mjd sebuah daerah yg cukup disegani di benua Kurusetra. Walaupun begitu beberapa percik pemberontakan msh tetap ada didalam sabhaparwa.

Parang berhenti sebentar pada sebuah ceruk dibawah pohon besar. Dg santai dia tarik sebuah daun talas yg cukup tinggi. hati hati dia meminum air yg menggenang diatas daun itu.
Sambil mengelap sisa air dimulutnya dia membuka sedikit bungkusan yg berbentuk seperti tongkat yg dia ikat di pinggangnya.
Dr ujung tongkat itu terlihat itu adlh sebuah golok. Diujung pangkal golok tersebut terukir sebuah tanda, tercetak sangat halus & terlihat dibuat dg hati hati.
Sebuah tanda mirip angka delapan uang dibelah oleh garis. Muka lelah parang tampak sedikit berubah mjd berbinar walaupun tak sedikitpun terlihat dia tersenyum.

Beberapa minggu sebelumnya. Parang terlihat disebuah kedai makan kecil, duduk dengan tenang sementara tangan kirinya memegang sebongkah roti murahan. Didepannya gelas besar berisi air masih terlihat agak sedikit panas. Diluar kedai terlihat gerimis, dan matahari bergerak pelan menuju malam. Beberapa rumah tampak beberapa rumah sudah menghidupkan lentera untuk menyambut malam yang dingin.

Sesekali Parang melihat keluar jendela ketika petir berkilat pelan di kejauhan. Gemuruhnya seperti mengantar matahari yang berpulang menuju ufuk barat di tengah rintik hujan di tanah Sabhaparwa.

Kedai itu setengah penuh terisi, dibeberapa sudut ruangan terlihat meja dan kursi kosong. Beberapa meja terisi oleh penduduk setempat dan orang yang hanya sekedar ingin berteduh didalam kedai. Parang tampak tidak peduli dengan sekitarnya, mukanya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Namun walaupun parang tampak lusuh dan membawa senjata tidaklah me,buat takut penjaga kedai tersebut.

Ya muka parang memang tidaklah menyeramkan ketika dia sedang tidak bertarung. Tapi ketika pedang sudah terhunus, tak seorangpun yang berhati lemah akan mampu beradu pandang dengannya.

Sesaat sebelum matahari benar benar menghilang di ujung barat sabhaparwa, terlihat beberapa orang berkuda dengan santai menghampiri kedai itu. Baju mereka terlihat mereka adalah bukan penduduk biasa, lebih seperti prajurit kerajaan.

Mereka berjumlah 7 orang dengan baju zirah perang yang terlihat seragam, walaupun salah satu diantarannya terlihat berbeda dengan kuda yang lebih besar dan tutup kepala besi bertanduk besar. Tampaknya mereka adalah patroli kerajaan sabhaparwa.

Dengan santai sambil mengobrol dan tertawa mereka mengikat kuda mereka ke sebuah palang kayu yang memang disediakan kedai itu untuk mengikat kuda kuda para tamu. Sesaat setelah mereka masuk tampak pemimpin pasukan patroli menyapa dengan ramah pemilik kedai, tanganya terangkat sesaat setelah pemilik kedai menundukkan kepala sambil tersenyum.

Mereka bertujuh memilih meja dekat jendela, tepat dibelakang parang. Tidak sampai menunggunlama meja mereka dengan segera penuh oleh roti, daging dan minuman penghangat tubuh.

“Kamu sudah mendengar kabar dari pos selatan? Katannya mereka menemukan beberapa bandit buronan dari klan shada yang kemarin kita kejar” kata salah satu dari mereka. “Ya, baguslah kalau begitu, tugas kita menjadi lebih ringan” si pemimpin yang berada tepat membelakangi parang berujar sambil mengggigit beberapa potong daging.

“Dalam beberapa potongan” salah satu dari mereka menyela. “Maksud kamu?”si pemimpin sejenak menghentikan kunyahannya. “Ya, pos selatan menemukan tubuh mereka tercerai berai, tampaknya ada yang memdahului mereka sesaat sebelum pos selatan menyerbu” ujar salah satu pasukan.

“Pedang?” Kata pemimpin seperti seolah mengulang kata kata anak buahnya. “Ya, menurut pos selatan sepertinya seluruh luka akibat sabetan pedang”, “bukankah semua klan shada adalah residivis pasukan khusus invantri sabha?” Salah satu dari mereka menimpali.”aku masih ingat bagaimana 6 orang klan sadha dan anak buahnya membantai habis pasukan penyergap kerajaan” “Mereka mendapatkan lawan yang tidak sembarangan kali ini…”

“Menurut salah satu saksi mata yang selamat dia hanya sendirian”, “maksud kamu klan sadha dihabisi oleh satu orang?!” Ujar salah satu pasukan yang dari tadi tampak asyik menikmati roti gandum kering.

Si pemimpin pasukan tampak terkejut walaupun sepertinya tenang, beberapa pasukan saling berbicara satu sama lain seperti baru kali ini mereka menemukan sesuatu seaneh itu. “Siapapun orang yang menghabisi klan shada cepat atau lambat kerajaan akan mengirim banyak pasukan khusus untuk menangkapnya, kita tidak tahu dia teman atau lawan”

Parang yang tidak sengaja menguping sejenak menghentikan kunyahannya. Raut mukannya sedikit berubah, matannya melihat keluar jendela namun perhatiannya tertuju pada meja di sebelah dia.

(bersambung…)